TEORI MOTIVASI MENURUT PARA
AHLI
1. Teori Motivasi Kebutuhan (
menurut Abraham Maslow)
Teori
motivasi yang paling terkenal adalah hierarki teori kebutuhan milik Abraham
Maslow. Ia membuat hipotesis bahwa dalam setiap diri manusia terdapat
hierarki dari lima kebutuhan, yaitu fisiologis (rasa lapar, haus, seksual, dan
kebutuhan fisik lainnya), rasa aman (rasa ingin dilindungi dari bahaya fisik
dan emosional), sosial (rasa kasih sayang, kepemilikan, penerimaan, dan
persahabatan), penghargaan (faktor penghargaan internal dan eksternal), dan
aktualisasi diri (pertumbuhan, pencapaian potensi seseorang, dan pemenuhan diri
sendiri).
·
Kebutuhan
fisiologis (rasa lapar, rasa haus, dan sebagainya)
·
Kebutuhan rasa
aman (merasa aman dan terlindung, jauh dari bahaya)
·
Kebutuhan akan
rasa cinta dan rasa memiliki (berafiliasi dengan orang lain, diterima,
memiliki)
·
Kebutuhan akan
penghargaan (berprestasi, berkompetensi, dan mendapatkan dukungan serta pengakuan)
·
Kebutuhan
aktualisasi diri (kebutuhan kognitif: mengetahui, memahami, dan menjelajahi;
kebutuhan estetik: keserasian, keteraturan, dan keindahan; kebutuhan
aktualisasi diri: mendapatkan kepuasan diri dan menyadari potensinya).
2.
Teori
Motivasi Herzberg
Menurut
Herzberg (1966), ada dua jenis faktor yang mendorong seseorang untuk berusaha
mencapai kepuasan dan menjauhkan diri dari ketidakpuasan. Dua faktor itu
disebutnya faktorhigiene (faktor ekstrinsik) dan faktor motivator (faktor
intrinsik). Faktor higiene memotivasi seseorang untuk keluar dari
ketidakpuasan, termasuk didalamnya adalah hubungan antar manusia, imbalan,
kondisi lingkungan, dan sebagainya (faktor ekstrinsik), sedangkan faktor
motivator memotivasi seseorang untuk berusaha mencapai kepuasan, yang termasuk
didalamnya adalah achievement, pengakuan, kemajuan tingkat kehidupan, dsb
(faktor intrinsik).
3.
Teori
achievement Mc Clelland
Menurut Mc
Clelland (1961), menyatakan bahwa ada tiga hal penting yang menjadi kebutuhan
manusia, yaitu:
·
Need for
achievement (kebutuhan akan prestasi dorongan untuk melebihi, mencapai
standar-standar, berusaha keras untuk berhasil.)
·
Need for
afiliation keinginan untuk menjalin suatu hubungan antarpersonal yang ramah dan
akrab (kebutuhan akan hubungan sosial/hampir sama dengan soscialneed-nya
Maslow)
·
Need for Power
kebutuhan untuk membuat individu lain berperilaku sedemikian rupa sehingga
mereka tidak akan berperilaku sebaliknya (dorongan untuk mengatur).
4.
Teori
X dan Y Douglass Mc Gregor
Douglas
McGregor menemukan teori X dan teori Y setelah mengkaji cara para manajer
berhubungan dengan para karyawan. Kesimpulan yang didapatkan adalah
pandangan manajer mengenai sifat manusia didasarkan atas beberapa kelompok
asumsi tertentu dan bahwa mereka cenderung membentuk perilaku mereka terhadap
karyawan berdasarkan asumsi-asumsi tersebut.
Ada empat asumsi yang dimiliki manajer dalam teori X. :
-
Karyawan pada
dasarnya tidak menyukai pekerjaan dan sebisa mungkin berusaha untuk
menghindarinya.
-
Karena karyawan
tidak menyukai pekerjaan, mereka harus dipakai, dikendalikan, atau diancam
dengan hukuman untuk mencapai tujuan.
-
Karyawan akan
mengindari tanggung jawab dan mencari perintah formal, di mana ini adalah
asumsi ketiga.
-
Sebagian karyawan
menempatkan keamanan di atas semua faktor lain terkait pekerjaan dan
menunjukkan sedikit ambisi.
Bertentangan dengan
pandangan-pandangan negatif mengenai sifat manusia dalam teori X, ada pula
empat asumsi positif yang disebutkan dalam teori Y.
-
Karyawan
menganggap kerja sebagai hal yang menyenangkan, seperti halnya istirahat atau
bermain.
-
Karyawan akan
berlatih mengendalikan diri dan emosi untuk mencapai berbagai tujuan.
-
Karyawan bersedia
belajar untuk menerima, mencari, dan bertanggungjawab.
-
Karyawan mampu
membuat berbagai keputusan inovatif yang diedarkan ke seluruh populasi, dan
bukan hanya bagi mereka yang menduduki posisi manajemen.
5.
Teori
Motivasi Clayton Alderfer
Clayton
Alderfer mengetengahkan teori motivasi ERG yang didasarkan pada kebutuhan
manusia akan keberadaan (exsistence), hubungan (relatedness), dan pertumbuhan
(growth). Teori ini sedikit berbeda dengan teori maslow. Disini Alfeder
mengemukakan bahwa jika kebutuhan yang lebih tinggi tidak atau belum dapat
dipenuhi maka manusia akan kembali pada gerak yang fleksibel dari pemenuhan
kebutuhan dari waktu kewaktu dan dari situasi ke situasi.
6. Teori Motivasi Vroom
Teori
dari Vroom (1964) tentang cognitive theory of motivation menjelaskan mengapa
seseorang tidak akan melakukan sesuatu yang ia yakini ia tidak dapat
melakukannya, sekalipun hasil dari pekerjaan itu sangat dapat ia inginkan.
Menurut Vroom, tinggi rendahnya motivasi seseorang ditentukan oleh tiga
komponen, yaitu:
-
Ekspektasi
(harapan) keberhasilan pada suatu tugas
-
Instrumentalis,
yaitu penilaian tentang apa yang akan terjadi jika berhasil dalam melakukan
suatu tugas (keberhasilan tugas untuk mendapatkan outcome tertentu).
-
Valensi, yaitu
respon terhadap outcome seperti perasaan posistif, netral, atau
negatif.Motivasi tinggi jika usaha menghasilkan sesuatu yang melebihi
harapanMotivasi rendah jika usahanya menghasilkan kurang dari yang diharapkan
PENGERTIAN KEPEMIMPINAN
Kepemimpinan adalah proses memengaruhi atau memberi
contoh oleh pemimpin kepada pengikutnya dalam upaya mencapai tujuan
organisasi. Cara alamiah mempelajari kepemimpinan adalah “melakukanya
dalam kerja” dengan praktik seperti pemagangan pada seorang senima ahli,
pengrajin, atau praktisi. Dalam hubungan ini sang ahli diharapkan sebagai
bagian dari peranya memberikan pengajaran/instruksi.
·
Stogdill (1974)
menyimpulkan bahwa banyak sekali definisi mengenai kepemimpinan,
dan diantaranya memiliki beberapa unsur yang sama.
·
Menurut Sarros
dan Butchatsky (1996), istilah ini dapat didefinisikan sebagai suatu
perilaku dengan tujuan tertentu untuk mempengaruhi aktivitas para anggota
kelompok untuk mencapai tujuan bersama yang dirancang untuk memberikan manfaat
individu dan organisasi.
·
Sedangkan menurut
Anderson (1988), “leadership means using power to influence the
thoughts and actions of others in such a way that achieve high performance”.
Berdasarkan definisi-definisi di
atas, kepemimpinan memiliki beberapa implikasi, antara lain :
·
Kepemimpinan
berarti melibatkan orang atau pihak lain, yaitu para karyawan atau bawahan (followers).
Para karyawan atau bawahan harus memiliki kemauan untuk menerima arahan dari
pemimpin. Walaupun demikian, tanpa adanya karyawan atau bawahan,
tidak akan ada pimpinan.
·
Seorang pemimpin
yang efektif adalah seseorang yang dengan kekuasaannya (his or herpower)
mampu menggugah pengikutnya untuk mencapai kinerja yang memuaskan. Para
pemimpin dapat menggunakan bentuk-bentuk kekuasaan atau kekuatan yang
berbeda untuk mempengaruhi perilaku bawahan dalam berbagai situasi.
·
Kepemimpinan
harus memiliki kejujuran terhadap diri sendiri (integrity),
sikap bertanggungjawab yang tulus (compassion), pengetahuan
(cognizance), keberanian bertindak sesuai dengan keyakinan (commitment),
kepercayaan pada diri sendiri dan orang lain (confidence) dan kemampuan untuk meyakinkan orang lain (communication) dalam membangun
organisasi.
Macam-macam tipe kepemimpinan
A. Tipe Kepemimpinan Kharismatis
Tipe kepemimpinan
karismatis memiliki kekuatan energi, daya tarik dan pembawaan yang luar biasa
untuk mempengaruhi orang lain, sehingga ia mempunyai pengikut yang sangat besar
jumlahnya dan pengawal-pengawal yang bisa dipercaya. Kepemimpinan kharismatik
dianggap memiliki kekuatan ghaib (supernatural power) dan kemampuan-kemampuan
yang superhuman, yang diperolehnya sebagai karunia Yang Maha Kuasa.
Kepemimpinan yang kharismatik memiliki inspirasi, keberanian, dan berkeyakinan
teguh pada pendirian sendiri. Totalitas kepemimpinan kharismatik memancarkan
pengaruh dan daya tarik yang amat besar.
B.
Tipe
Kepemimpinan Paternalistis/Maternalistik
Kepemimpinan paternalistik lebih diidentikkan
dengan kepemimpinan yang kebapakan dengan sifat-sifat sebagai berikut:
·
mereka
menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak/belum dewasa, atau anak sendiri
yang perlu dikembangkan.
·
mereka
bersikap terlalu melindungi.
·
mereka
jarang memberikan kesempatan kepada bawahan untuk mengambil keputusan sendiri.
·
mereka
hampir tidak pernah memberikan kesempatan kepada bawahan untuk berinisiatif.
·
mereka
memberikan atau hampir tidak pernah memberikan kesempatan pada pengikut atau
bawahan untuk mengembangkan imajinasi dan daya kreativitas mereka sendiri.
·
selalu
bersikap maha tahu dan maha benar.
Sedangkan tipe kepemimpinan
maternalistik tidak jauh beda dengan tipe kepemimpinan paternalistik, yang
membedakan adalah dalam kepemimpinan maternalistik terdapat sikap over-protective atau
terlalu melindungi yang sangat menonjol disertai kasih sayang yang berlebih
lebihan.
C.
Tipe
Kepemimpinan Militeristik
Tipe kepemimpinan militeristik ini sangat mirip
dengan tipe kepemimpinan otoriter. Adapun sifat-sifat dari tipe kepemimpinan
militeristik adalah:
·
lebih
banyak menggunakan sistem perintah/komando, keras dan sangat otoriter, kaku dan
seringkali kurang bijaksana.
·
menghendaki
kepatuhan mutlak dari bawahan.
·
sangat
menyenangi formalitas, upacara-upacara ritual dan tanda-tanda kebesaran yang
berlebihan.
·
menuntut
adanya disiplin yang keras dan kaku dari bawahannya.
·
tidak
menghendaki saran, usul, sugesti, dan kritikan-kritikan dari bawahannya,.
·
komunikasi
hanya berlangsung searah.
D.
Tipe
Kepemimpinan Otokratis (Outhoritative, Dominator)
·
mendasarkan
diri pada kekuasaan dan paksaan mutlak yang harus dipatuhi.
·
pemimpinnya
selalu berperan sebagai pemain tunggal.
·
berambisi
untuk merajai situasi.
·
setiap
perintah dan kebijakan selalu ditetapkan sendiri.
·
bawahan
tidak pernah diberi informasi yang mendetail tentang rencana dan tindakan yang
akan dilakukan.
·
semua
pujian dan kritik terhadap segenap anak buah diberikan atas pertimbangan
pribadi.
·
adanya
sikap eksklusivisme.
·
selalu
ingin berkuasa secara absolute.
·
sikap
dan prinsipnya sangat konservatif, kuno, ketat dan kaku.
·
pemimpin
ini akan bersikap baik pada bawahan apabila mereka patuh.
E.
Tipe
Kepemimpinan Laissez Faire
Pada tipe kepemimpinan ini
praktis pemimpin tidak memimpin, dia membiarkan kelompoknya dan setiap orang
berbuat semaunya sendiri. Pemimpin tidak berpartisipasi sedikit pun dalam
kegiatan kelompoknya. Semua pekerjaan dan tanggung jawab harus dilakukan oleh
bawahannya sendiri. Pemimpin hanya berfungsi sebagai simbol, tidak memiliki
keterampilan teknis, tidak mempunyai wibawa, tidak bisa mengontrol anak buah,
tidak mampu melaksanakan koordinasi kerja, tidak mampu menciptakan suasana
kerja yang kooperatif.
F.
Tipe
Kepemimpinan Populistis
Kepemimpinan populis
berpegang teguh pada nilai-nilai masyarakat yang tradisonal, tidak mempercayai
dukungan kekuatan serta bantuan hutang luar negeri. Kepemimpinan jenis ini
mengutamakan penghidupan kembali sikap nasionalisme.
G.
Tipe
Kepemimpinan Administratif/Eksekutif
Kepemimpinan tipe
administratif ialah kepemimpinan yang mampu menyelenggarakan tugas-tugas
administrasi secara efektif. Pemimpinnya biasanya terdiri dari
teknokrat-teknokrat dan administratur-administratur yang mampu menggerakkan
dinamika modernisasi dan pembangunan. Oleh karena itu dapat tercipta sistem
administrasi dan birokrasi yang efisien dalam pemerintahan.
H.
Tipe
Kepemimpinan Demokratis
Kepemimpinan demokratis
berorientasi pada manusia dan memberikan bimbingan yang efisien kepada para
pengikutnya. Terdapat koordinasi pekerjaan pada semua bawahan, dengan penekanan
pada rasa tanggung jawab internal (pada diri sendiri) dan kerjasama yang baik.
kekuatan kepemimpinan demokratis tidak terletak pada pemimpinnya akan tetapi
terletak pada partisipasi aktif dari setiap warga kelompok.
Pengertian Komunikasi
Kata atau istilah komunikasi (dari bahasa
Inggris “communication”),secara etimologis atau menurut asal katanya adalah
dari bahasa Latin communicatus, dan perkataan ini bersumber pada kata communis
Dalam kata communis ini memiliki makna ‘berbagi’ atau ‘menjadi milik bersama’
yaitu suatu usaha yang memiliki tujuan untuk kebersamaan atau kesamaan makna.
Jadi, Komunikasi adalah
suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan) dari satu pihak kepada
pihak lain. Pada umumnya, komunikasi dilakukan secara lisan atau verbal yang
dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. Apabila tidak ada bahasa verbal yang
dapat dimengerti oleh keduanya, komunikasi masih dapat dilakukan dengan
menggunakan gerak-gerik badan, menunjukkan sikap tertentu, misalnya tersenyum,
menggelengkan kepala, mengangkat bahu. Cara seperti ini disebut komunikasi
nonverbal.
Pengertian Hambatan
1.
Hambatan
internal, adalah hambatan yang berasal dari dalam diri individu yang terkait
kondisi fisik dan psikologis. Contohnya, jika seorang mengalami gangguan
pendengaran maka ia akan mengalami hambatan komunikasi. Demikuan pula seseorang
yang sedang tertekan (depresi) tidak akan dapat melakukan komunikasi dengan
baik.
2.
Hambatan
eksternal, adalah hambatan yang berasal dari luar individu yang terkait dengan
lingkungan social budaya. Contohnya perbedaan latar belakang social budaya
dapat menyebabkan salah pengertian.
Klasifikasi
Komunikasi dalam organisasi
Di bawah ini
ada beberapa klasifikasi komunikasi dalam organisasi yang di tinjau dari
beberapa segi :
A.
Dari segi sifatnya :
a.
Komunikasi Lisan
Komunikasi yang berlangsung
lisan / berbicara. Contoh: presentasi.
b.
Komunukasi Tertulis
Komunikasi melalui
tulisan. Contoh: email.
c.
Komunikasi Verbal
komunikasi yang dibicarakan/diungkapkan. Contoh: curhat.
d.
Komunikasi Non Verbal
Komunikasi yang tidak dibicarakan(tersirat). Contoh: seseorang yang nerves
(gemetar).
B.
Dari segi arahnya :
a.
Komunikasi Ke atas
Komunikasi dari bawahan ke atasan.
b.
Komunikasi Ke bawah
Komunikasi dari atasan ke bawahan.
c.
Komunikasi Horizontal
Komunikasi ke sesama manusia / setingkat.
d.
Komunikasi Satu Arah
Pemberitahuan gempa melalui BMKG(tanpa ada timbal balik).
e.
Komunikasi Dua Arah
Berbicara dengan adanya timbal balik/ saling berkomunikasi.
C.
Menurut Lawannya :
a.
Komunikasi Satu Lawan Satu
Berbicara dengan
lawan bicara yang sama banyaknya. Contoh:
berbicara melalui telepon.
b.
Komunikasi Satu Lawan Banyak
(kelompok)
Berbicara antara satu orang dengan suatu kelompok. Contoh: kelompok satpam
menginterogasi maling.
c.
Kelompok Lawan Kelompok
Berbicara antara suatu kelompok dengan kelompok lain. Contoh: debat partai politik.
D.
Menurut Keresmiannya :
a.
Komunikasi Formal
Komunikasi yang berlangsung resmi. Contoh: rapat pemegang saham.
b.
Komunikasi Informal
Komunikasi yang tidak resmi. Contoh: berbicara dengan teman.
Pengertian
Pengawasan
Dalam kamus besar bahasa Indonesia pengawasan berasal dari
kata “awas” yang artinya memperhatikan baik-baik, dalam arti melihat sesuatu
dengan cermat dan seksama, tidak ada lagi kegiatan kecuali memberi laporan
berdasarkan kenyataan yang sebenarnya dari apa yang di awas.
Pengawasan bisa didefinisikan sebagai suatu usaha sistematis
oleh manajemen bisnis untuk membandingkan kinerja standar, rencana, atau tujuan
yang telah ditentukan terlebih dahulu untuk menentukan apakah kinerja sejalan
dengan standar tersebut dan untuk mengambil tindakan penyembuhan yang
diperlukan untuk melihat bahwa sumber daya manusia digunakan dengan seefektif
dan seefisien mungkin didalam mencapai tujuan.
Klasifikasi
pengawasan
Ada
beranekaragam atau bermacam-macam jenis daripada pengawasan. Di antara banyak
jenis-jenis pengawasan itu adalah sebagai berikut :
1.
Dilihat dari bidang kerja atau
objeknya pengawasan terdiri dari :
a. Pengawasan
dibidang penjualan.
b. Pengawasan
dibidang keuangan dan pembiayaan.
c. Pengawasan
di bidang material dan perbekalan.
d. Pengawasan
dibidang personalia.
e. Pengawasan
dibidang kualitas atau mutu.
f. Pengawasan
dibidang produksi.
g. Pengawasan
dibidang anggaran.
2.
Dilihat dari segi subjek atau petugas
control atau yang melakukan pengawasan, maka pengawasan dapat dibedakan atas :
a. Pengawasan internal, yakni pengawasan
yang dilakukan oleh petugas-petugas dari organisasi atau perusahaan atau
jawatan yang sedang melaksanakan kegiatan.
b. Pengawasan eksternal, adalah
pengawasan yang dilancarkan oleh petugas-petugas dari luar organisasi ataupun
perusahaan atau jawatan yang bersangkutan, baik merupakan pengawasan dari pihak
pemerintah maupun dari masyarakat umum.
c. Pengawasan formal, yakni pengawasan
yang dilakukan oleh petugas-petugas resmi atau petugas-petugas yang sudah
ditunjuk sebelumnya dan biasanya dilakukan sesuai dengan rencana, program
maupun jadwal yang sudah ditetapkan semula.
d. Pengawasan informal, yakni pengawasan
yang dilakukan petugas-petugas yang ditunjuk sewaktu-waktu, dilakukan oleh
petugas tidak resmi dan sering kali pengawasan jenis ini dilakukan seketika
jika terjsdi hal-hal yang tidak dibenarkan menurut rencana serta sering
dilakukan di luar program dan jadwal yang telah ditetapkan sebelumnya.
e. Pengawasan manajerial adalah pengawasan
yang dilakukan oleh manajer atau pemimpin, biasanya menyangkut segala sesuatu
yang berkenaan dengan proses manajemen, yaitu perencanaan, pengorganisasian dan
penggerakan orang-orang.
f.
Pengawasan
staf, yakni pengawasan yang dilakukan oleh staf yang memang diberi tugas untuk
melakukan pengawasan dalam bidang-bidang kegiatan tertentu.
3.
Ditinjau dari segi waktu, maka
pengawasan dapat dikatagorikan :
a. Pengawasan Preventif, yakni
pengawasan yang bermaksud mencegah timbulnya kesalahan-kesalahan dan hal-hal
yang tidak diinginkan. Pengawasan ini dinamai pengawasan pencegahan.
b. Pengawasan Improses, adalah
pengawasan yang dilakukan sedang terjadinya penyimpangan atau kekeliruan-
kekeliruan dengan maksud agar pelaksanaannya sesuai dengan rencana.
c. Pengawasan Represif, yaitu pengawasan
yang dilakukan sesudah terjadinya penyimpangan atau kesalahan, dengan tujuan
untuk memperbaiki dan agar kelak pelaksanaan selanjutnya tidak akan terjadi
lagi kesalahan dan penyimpangan.
4.
Dilihat dari segi lainnya, maka
pengawasan dapat digolongkan atas beberapa jenis, misalnya :
a. Pengawasan umum, yakni pengawasan
yang dilakukan secara keseluruhan daripada segenap kegiatan yang dilakukan.
b. Pengawasan khusus adalah pengawasan
yang dilakukan untuk bidang-bidang kegiatan tertentu saja, tidak menyeluruh,
tetapi pengawasan terhadap bagian-bagian tertentu saja.
c. Pengawasan langsung adalah pengawasan
yang langsung dilakukan ke tempat dimana pekerjaan sedang berlangsung.
d. Pengawasan tidak langsung adalah
pengawasan yang dilakukan melalui control mekanis, misalnya dengan laporan
lisan, laporan tertulis, melalui data statistic neraca dan sebagainya.
e. Pengawasan mendadak, yaitu pengawasan
yang dilakukan di luar program, pemgawasan dengan tiba-tiba tanpa terlebih
dahulu member tahukan kepada pekerja atau petugas yang bertanggung jawab
terhadap pekerjaan tersebut. pengawasan mendadak ini sering pula disebut “in
cognito”.
f.
Pengawasan
teratur adalah pengawasan yang dilakukan sesuai program dan jadwal yang sudah
disusun sebelumnya, diadakan secara periodik, secara berkala.
g. Pengawasan terus menerus, yakni
pengawasan yang dilakukan tanpa hentinya selama kegiatan berlangsung.
Pengawasan jenis ini biasanya dilakukan terhadap kegiatan yang menggunakan
tenaga kerja harian. Pengawasan ini dikatakan juga continue
control.
SUMBER :