Jumat, 24 Januari 2014

TUGAS 3 ORGANISASI

Diposting oleh rizkaicha28 di 06.11
TEORI MOTIVASI MENURUT PARA AHLI

1.     Teori Motivasi Kebutuhan ( menurut Abraham Maslow)
Teori motivasi yang paling terkenal adalah hierarki teori kebutuhan milik Abraham Maslow.  Ia membuat hipotesis bahwa dalam setiap diri manusia terdapat hierarki dari lima kebutuhan, yaitu fisiologis (rasa lapar, haus, seksual, dan kebutuhan fisik lainnya), rasa aman (rasa ingin dilindungi dari bahaya fisik dan emosional), sosial (rasa kasih sayang, kepemilikan, penerimaan, dan persahabatan), penghargaan (faktor penghargaan internal dan eksternal), dan aktualisasi diri (pertumbuhan, pencapaian potensi seseorang, dan pemenuhan diri sendiri).
·         Kebutuhan fisiologis (rasa lapar, rasa haus, dan sebagainya)
·         Kebutuhan rasa aman (merasa aman dan terlindung, jauh dari bahaya)
·         Kebutuhan akan rasa cinta dan rasa memiliki (berafiliasi dengan orang lain, diterima, memiliki)
·         Kebutuhan akan penghargaan (berprestasi, berkompetensi, dan mendapatkan dukungan serta pengakuan)
·         Kebutuhan aktualisasi diri (kebutuhan kognitif: mengetahui, memahami, dan menjelajahi; kebutuhan estetik: keserasian, keteraturan, dan keindahan; kebutuhan aktualisasi diri: mendapatkan kepuasan diri dan menyadari potensinya).

2.      Teori Motivasi Herzberg
Menurut Herzberg (1966), ada dua jenis faktor yang mendorong seseorang untuk berusaha mencapai kepuasan dan menjauhkan diri dari ketidakpuasan. Dua faktor itu disebutnya faktorhigiene (faktor ekstrinsik) dan faktor motivator (faktor intrinsik). Faktor higiene memotivasi seseorang untuk keluar dari ketidakpuasan, termasuk didalamnya adalah hubungan antar manusia, imbalan, kondisi lingkungan, dan sebagainya (faktor ekstrinsik), sedangkan faktor motivator memotivasi seseorang untuk berusaha mencapai kepuasan, yang termasuk didalamnya adalah achievement, pengakuan, kemajuan tingkat kehidupan, dsb (faktor intrinsik).
3.      Teori achievement Mc Clelland
Menurut  Mc Clelland (1961), menyatakan bahwa ada tiga hal penting yang menjadi kebutuhan manusia, yaitu:

·         Need for achievement (kebutuhan akan prestasi dorongan untuk melebihi, mencapai standar-standar, berusaha keras untuk berhasil.)
·         Need for afiliation keinginan untuk menjalin suatu hubungan antarpersonal yang ramah dan akrab (kebutuhan akan hubungan sosial/hampir sama dengan soscialneed-nya Maslow)
·         Need for Power kebutuhan untuk membuat individu lain berperilaku sedemikian rupa sehingga mereka tidak akan berperilaku sebaliknya (dorongan untuk mengatur).

4.     Teori X dan Y Douglass Mc Gregor
Douglas McGregor menemukan teori X dan teori Y setelah mengkaji cara para manajer berhubungan dengan para karyawan.  Kesimpulan yang didapatkan adalah pandangan manajer mengenai sifat manusia didasarkan atas beberapa kelompok asumsi tertentu dan bahwa mereka cenderung membentuk perilaku mereka terhadap karyawan berdasarkan asumsi-asumsi tersebut.

Ada empat asumsi yang dimiliki manajer dalam teori X. :
-          Karyawan pada dasarnya tidak menyukai pekerjaan dan sebisa mungkin berusaha untuk menghindarinya.
-          Karena karyawan tidak menyukai pekerjaan, mereka harus dipakai, dikendalikan, atau diancam dengan hukuman untuk mencapai tujuan.
-          Karyawan akan mengindari tanggung jawab dan mencari perintah formal, di mana ini adalah asumsi ketiga.
-          Sebagian karyawan menempatkan keamanan di atas semua faktor lain terkait pekerjaan dan menunjukkan sedikit ambisi.
Bertentangan dengan pandangan-pandangan negatif mengenai sifat manusia dalam teori X, ada pula empat asumsi positif yang disebutkan dalam teori Y.
-          Karyawan menganggap kerja sebagai hal yang menyenangkan, seperti halnya istirahat atau bermain.
-          Karyawan akan berlatih mengendalikan diri dan emosi untuk mencapai berbagai tujuan.
-          Karyawan bersedia belajar untuk menerima, mencari, dan bertanggungjawab. 
-          Karyawan mampu membuat berbagai keputusan inovatif yang diedarkan ke seluruh populasi, dan bukan hanya bagi mereka yang menduduki posisi manajemen.

5.      Teori Motivasi Clayton Alderfer
Clayton Alderfer mengetengahkan teori motivasi ERG yang didasarkan pada kebutuhan manusia akan keberadaan (exsistence), hubungan (relatedness), dan pertumbuhan (growth). Teori ini sedikit berbeda dengan teori maslow. Disini Alfeder mengemukakan bahwa jika kebutuhan yang lebih tinggi tidak atau belum dapat dipenuhi maka manusia akan kembali pada gerak yang fleksibel dari pemenuhan kebutuhan dari waktu kewaktu dan dari situasi ke situasi. 
6.     Teori Motivasi Vroom
Teori dari Vroom (1964) tentang cognitive theory of motivation menjelaskan mengapa seseorang tidak akan melakukan sesuatu yang ia yakini ia tidak dapat melakukannya, sekalipun hasil dari pekerjaan itu sangat dapat ia inginkan. Menurut Vroom, tinggi rendahnya motivasi seseorang ditentukan oleh tiga komponen, yaitu:
-          Ekspektasi (harapan) keberhasilan pada suatu tugas
-          Instrumentalis, yaitu penilaian tentang apa yang akan terjadi jika berhasil dalam melakukan suatu tugas (keberhasilan tugas untuk mendapatkan outcome tertentu).
-          Valensi, yaitu respon terhadap outcome seperti perasaan posistif, netral, atau negatif.Motivasi tinggi jika usaha menghasilkan sesuatu yang melebihi harapanMotivasi rendah jika usahanya menghasilkan kurang dari yang diharapkan

PENGERTIAN KEPEMIMPINAN
Kepemimpinan adalah proses memengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin kepada pengikutnya dalam upaya mencapai tujuan organisasi. Cara alamiah mempelajari kepemimpinan adalah “melakukanya dalam kerja” dengan praktik seperti pemagangan pada seorang senima ahli, pengrajin, atau praktisi. Dalam hubungan ini sang ahli diharapkan sebagai bagian dari peranya memberikan pengajaran/instruksi.
·         Stogdill (1974) menyimpulkan bahwa banyak sekali definisi mengenai kepemimpinan, dan diantaranya memiliki beberapa unsur yang sama.
·         Menurut Sarros dan Butchatsky (1996), istilah ini dapat didefinisikan sebagai suatu perilaku dengan tujuan tertentu untuk mempengaruhi aktivitas para anggota kelompok untuk mencapai tujuan bersama yang dirancang untuk memberikan manfaat individu dan organisasi.
·         Sedangkan menurut Anderson (1988), “leadership means using power to influence the thoughts and actions of others in such a way that achieve high performance.
Berdasarkan definisi-definisi di atas, kepemimpinan memiliki beberapa implikasi, antara lain :
·         Kepemimpinan berarti melibatkan orang atau pihak lain, yaitu para karyawan atau bawahan (followers). Para karyawan atau bawahan harus memiliki kemauan untuk menerima arahan dari pemimpin. Walaupun demikian, tanpa adanya karyawan atau bawahan, tidak akan ada pimpinan.
·         Seorang pemimpin yang efektif adalah seseorang yang dengan kekuasaannya (his or herpower) mampu menggugah pengikutnya untuk mencapai kinerja yang memuaskan. Para pemimpin dapat menggunakan bentuk-bentuk kekuasaan atau kekuatan yang berbeda untuk mempengaruhi perilaku bawahan dalam berbagai situasi.
·         Kepemimpinan harus memiliki kejujuran terhadap diri sendiri (integrity), sikap bertanggungjawab yang tulus (compassion), pengetahuan (cognizance), keberanian bertindak sesuai dengan keyakinan (commitment), kepercayaan pada diri sendiri dan orang lain (confidence) dan kemampuan untuk meyakinkan orang lain (communication) dalam membangun organisasi.

Macam-macam tipe kepemimpinan
A.     Tipe Kepemimpinan Kharismatis
Tipe kepemimpinan karismatis memiliki kekuatan energi, daya tarik dan pembawaan yang luar biasa untuk mempengaruhi orang lain, sehingga ia mempunyai pengikut yang sangat besar jumlahnya dan pengawal-pengawal yang bisa dipercaya. Kepemimpinan kharismatik dianggap memiliki kekuatan ghaib (supernatural power) dan kemampuan-kemampuan yang superhuman, yang diperolehnya sebagai karunia Yang Maha Kuasa. Kepemimpinan yang kharismatik memiliki inspirasi, keberanian, dan berkeyakinan teguh pada pendirian sendiri. Totalitas kepemimpinan kharismatik memancarkan pengaruh dan daya tarik yang amat besar.
B.      Tipe Kepemimpinan Paternalistis/Maternalistik
Kepemimpinan paternalistik lebih diidentikkan dengan kepemimpinan yang kebapakan dengan sifat-sifat sebagai berikut:
·         mereka menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak/belum dewasa, atau anak sendiri yang perlu dikembangkan.
·         mereka bersikap terlalu melindungi.
·         mereka jarang memberikan kesempatan kepada bawahan untuk mengambil keputusan sendiri.
·         mereka hampir tidak pernah memberikan kesempatan kepada bawahan untuk berinisiatif.
·         mereka memberikan atau hampir tidak pernah memberikan kesempatan pada pengikut atau bawahan untuk mengembangkan imajinasi dan daya kreativitas mereka sendiri.
·         selalu bersikap maha tahu dan maha benar.
Sedangkan tipe kepemimpinan maternalistik tidak jauh beda dengan tipe kepemimpinan paternalistik, yang membedakan adalah dalam kepemimpinan maternalistik terdapat sikap over-protective atau terlalu melindungi yang sangat menonjol disertai kasih sayang yang berlebih lebihan.
C.      Tipe Kepemimpinan Militeristik
Tipe kepemimpinan militeristik ini sangat mirip dengan tipe kepemimpinan otoriter. Adapun sifat-sifat dari tipe kepemimpinan militeristik adalah:
·         lebih banyak menggunakan sistem perintah/komando, keras dan sangat otoriter, kaku dan seringkali kurang bijaksana.
·         menghendaki kepatuhan mutlak dari bawahan.
·         sangat menyenangi formalitas, upacara-upacara ritual dan tanda-tanda kebesaran yang berlebihan.
·         menuntut adanya disiplin yang keras dan kaku dari bawahannya.
·         tidak menghendaki saran, usul, sugesti, dan kritikan-kritikan dari bawahannya,.
·         komunikasi hanya berlangsung searah.

D.     Tipe Kepemimpinan Otokratis (Outhoritative, Dominator)
Kepemimpinan otokratis memiliki ciri-ciri antara lain:
·         mendasarkan diri pada kekuasaan dan paksaan mutlak yang harus dipatuhi.
·         pemimpinnya selalu berperan sebagai pemain tunggal.
·         berambisi untuk merajai situasi.
·         setiap perintah dan kebijakan selalu ditetapkan sendiri.
·         bawahan tidak pernah diberi informasi yang mendetail tentang rencana dan tindakan yang akan dilakukan.
·         semua pujian dan kritik terhadap segenap anak buah diberikan atas pertimbangan pribadi.
·         adanya sikap eksklusivisme.
·         selalu ingin berkuasa secara absolute.
·         sikap dan prinsipnya sangat konservatif, kuno, ketat dan kaku.
·         pemimpin ini akan bersikap baik pada bawahan apabila mereka patuh.

E.      Tipe Kepemimpinan Laissez Faire
Pada tipe kepemimpinan ini praktis pemimpin tidak memimpin, dia membiarkan kelompoknya dan setiap orang berbuat semaunya sendiri. Pemimpin tidak berpartisipasi sedikit pun dalam kegiatan kelompoknya. Semua pekerjaan dan tanggung jawab harus dilakukan oleh bawahannya sendiri. Pemimpin hanya berfungsi sebagai simbol, tidak memiliki keterampilan teknis, tidak mempunyai wibawa, tidak bisa mengontrol anak buah, tidak mampu melaksanakan koordinasi kerja, tidak mampu menciptakan suasana kerja yang kooperatif.
F.       Tipe Kepemimpinan Populistis
Kepemimpinan populis berpegang teguh pada nilai-nilai masyarakat yang tradisonal, tidak mempercayai dukungan kekuatan serta bantuan hutang luar negeri. Kepemimpinan jenis ini mengutamakan penghidupan kembali sikap nasionalisme.
G.     Tipe Kepemimpinan Administratif/Eksekutif
Kepemimpinan tipe administratif ialah kepemimpinan yang mampu menyelenggarakan tugas-tugas administrasi secara efektif. Pemimpinnya biasanya terdiri dari teknokrat-teknokrat dan administratur-administratur yang mampu menggerakkan dinamika modernisasi dan pembangunan. Oleh karena itu dapat tercipta sistem administrasi dan birokrasi yang efisien dalam pemerintahan.
H.     Tipe Kepemimpinan Demokratis
Kepemimpinan demokratis berorientasi pada manusia dan memberikan bimbingan yang efisien kepada para pengikutnya. Terdapat koordinasi pekerjaan pada semua bawahan, dengan penekanan pada rasa tanggung jawab internal (pada diri sendiri) dan kerjasama yang baik. kekuatan kepemimpinan demokratis tidak terletak pada pemimpinnya akan tetapi terletak pada partisipasi aktif dari setiap warga kelompok.

Pengertian Komunikasi
Kata atau istilah komunikasi (dari bahasa Inggris “communication”),secara etimologis atau menurut asal katanya adalah dari bahasa Latin communicatus, dan perkataan ini bersumber pada kata communis Dalam kata communis ini memiliki makna ‘berbagi’ atau ‘menjadi milik bersama’ yaitu suatu usaha yang memiliki tujuan untuk kebersamaan atau kesamaan makna.
Jadi, Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain. Pada umumnya, komunikasi dilakukan secara lisan atau verbal yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. Apabila tidak ada bahasa verbal yang dapat dimengerti oleh keduanya, komunikasi masih dapat dilakukan dengan menggunakan gerak-gerik badan, menunjukkan sikap tertentu, misalnya tersenyum, menggelengkan kepala, mengangkat bahu. Cara seperti ini disebut komunikasi nonverbal.

Pengertian Hambatan

1.      Hambatan internal, adalah hambatan yang berasal dari dalam diri individu yang terkait kondisi fisik dan psikologis. Contohnya, jika seorang mengalami gangguan pendengaran maka ia akan mengalami hambatan komunikasi. Demikuan pula seseorang yang sedang tertekan (depresi) tidak akan dapat melakukan komunikasi dengan baik.
2.      Hambatan eksternal, adalah hambatan yang berasal dari luar individu yang terkait dengan lingkungan social budaya. Contohnya perbedaan latar belakang social budaya dapat menyebabkan salah pengertian.

Klasifikasi Komunikasi dalam organisasi
Di bawah ini ada beberapa klasifikasi komunikasi dalam organisasi yang di tinjau dari beberapa segi :
A.     Dari segi sifatnya :
a.      Komunikasi Lisan
Komunikasi yang berlangsung lisan / berbicara. Contoh: presentasi.
b.      Komunukasi Tertulis
Komunikasi melalui tulisan. Contoh: email.
c.       Komunikasi Verbal
komunikasi yang dibicarakan/diungkapkan. Contoh: curhat.
d.      Komunikasi Non Verbal
Komunikasi yang tidak dibicarakan(tersirat). Contoh: seseorang yang nerves (gemetar).


B.      Dari segi arahnya :
a.      Komunikasi Ke atas
Komunikasi dari bawahan ke atasan.
b.      Komunikasi Ke bawah
Komunikasi dari atasan ke bawahan.
c.       Komunikasi Horizontal
Komunikasi ke sesama manusia / setingkat.
d.      Komunikasi Satu Arah
Pemberitahuan gempa melalui BMKG(tanpa ada timbal balik).
e.      Komunikasi Dua Arah
Berbicara dengan adanya timbal balik/ saling berkomunikasi.

C.      Menurut Lawannya :
a.      Komunikasi Satu Lawan Satu
Berbicara dengan lawan bicara yang sama banyaknya.  Contoh: berbicara melalui telepon.
b.      Komunikasi Satu Lawan Banyak (kelompok)
‏Berbicara antara satu orang dengan suatu kelompok. Contoh: kelompok satpam menginterogasi maling.
c.       Kelompok Lawan Kelompok
Berbicara antara suatu kelompok dengan kelompok lain. Contoh: debat partai politik.

D.     Menurut Keresmiannya :
a.      Komunikasi Formal
Komunikasi yang berlangsung resmi. Contoh: rapat pemegang saham.
b.      Komunikasi Informal
Komunikasi yang tidak resmi. Contoh: berbicara dengan teman.

Pengertian Pengawasan
Dalam kamus besar bahasa Indonesia pengawasan berasal dari kata “awas” yang artinya memperhatikan baik-baik, dalam arti melihat sesuatu dengan cermat dan seksama, tidak ada lagi kegiatan kecuali memberi laporan berdasarkan kenyataan yang sebenarnya dari apa yang di awas.
Pengawasan bisa didefinisikan sebagai suatu usaha sistematis oleh manajemen bisnis untuk membandingkan kinerja standar, rencana, atau tujuan yang telah ditentukan terlebih dahulu untuk menentukan apakah kinerja sejalan dengan standar tersebut dan untuk mengambil tindakan penyembuhan yang diperlukan untuk melihat bahwa sumber daya manusia digunakan dengan seefektif dan seefisien mungkin didalam mencapai tujuan.
Klasifikasi pengawasan
Ada beranekaragam atau bermacam-macam jenis daripada pengawasan. Di antara banyak jenis-jenis pengawasan itu adalah sebagai berikut :
1.      Dilihat dari bidang kerja atau objeknya pengawasan terdiri dari :
      a.    Pengawasan dibidang penjualan.
      b.   Pengawasan dibidang keuangan dan pembiayaan.
      c.     Pengawasan di bidang material dan perbekalan.
      d.    Pengawasan dibidang personalia.
      e.     Pengawasan dibidang kualitas atau mutu.
      f.     Pengawasan dibidang produksi.
      g.    Pengawasan dibidang anggaran.

2.      Dilihat dari segi subjek atau petugas control atau yang melakukan pengawasan, maka pengawasan dapat dibedakan atas :

a.      Pengawasan internal, yakni pengawasan yang dilakukan oleh petugas-petugas dari organisasi atau perusahaan atau jawatan yang sedang melaksanakan kegiatan.
b.      Pengawasan eksternal, adalah pengawasan yang dilancarkan oleh petugas-petugas dari luar organisasi ataupun perusahaan atau jawatan yang bersangkutan, baik merupakan pengawasan dari pihak pemerintah maupun dari masyarakat umum.
c.       Pengawasan formal, yakni pengawasan yang dilakukan oleh petugas-petugas resmi atau petugas-petugas yang sudah ditunjuk sebelumnya dan biasanya dilakukan sesuai dengan rencana, program maupun jadwal yang sudah ditetapkan semula.
d.      Pengawasan informal, yakni pengawasan yang dilakukan petugas-petugas yang ditunjuk sewaktu-waktu, dilakukan oleh petugas tidak resmi dan sering kali pengawasan jenis ini dilakukan seketika jika terjsdi hal-hal yang tidak dibenarkan menurut rencana serta sering dilakukan di luar program dan jadwal yang telah ditetapkan sebelumnya.
e.      Pengawasan manajerial adalah pengawasan yang dilakukan oleh manajer atau pemimpin, biasanya menyangkut segala sesuatu yang berkenaan dengan proses manajemen, yaitu perencanaan, pengorganisasian dan penggerakan orang-orang.
f.        Pengawasan staf, yakni pengawasan yang dilakukan oleh staf yang memang diberi tugas untuk melakukan pengawasan dalam bidang-bidang kegiatan tertentu.

3.      Ditinjau dari segi waktu, maka pengawasan dapat dikatagorikan :

a.      Pengawasan Preventif, yakni pengawasan yang bermaksud mencegah timbulnya kesalahan-kesalahan dan hal-hal yang tidak diinginkan. Pengawasan ini dinamai pengawasan pencegahan.
b.      Pengawasan Improses, adalah pengawasan yang dilakukan sedang terjadinya penyimpangan atau kekeliruan- kekeliruan dengan maksud agar pelaksanaannya sesuai dengan rencana.
c.       Pengawasan Represif, yaitu pengawasan yang dilakukan sesudah terjadinya penyimpangan atau kesalahan, dengan tujuan untuk memperbaiki dan agar kelak pelaksanaan selanjutnya tidak akan terjadi lagi kesalahan dan penyimpangan.

4.      Dilihat dari segi lainnya, maka pengawasan dapat digolongkan atas beberapa jenis, misalnya :

a.      Pengawasan umum, yakni pengawasan yang dilakukan secara keseluruhan daripada segenap kegiatan yang dilakukan.
b.      Pengawasan khusus adalah pengawasan yang dilakukan untuk bidang-bidang kegiatan tertentu saja, tidak menyeluruh, tetapi pengawasan terhadap bagian-bagian tertentu saja.
c.       Pengawasan langsung adalah pengawasan yang langsung dilakukan ke tempat dimana pekerjaan sedang berlangsung.
d.      Pengawasan tidak langsung adalah pengawasan yang dilakukan melalui control mekanis, misalnya dengan laporan lisan, laporan tertulis, melalui data statistic neraca dan sebagainya.
e.      Pengawasan mendadak, yaitu pengawasan yang dilakukan di luar program, pemgawasan dengan tiba-tiba tanpa terlebih dahulu member tahukan kepada pekerja atau petugas yang bertanggung jawab terhadap pekerjaan tersebut. pengawasan mendadak ini sering pula disebut “in cognito”.
f.        Pengawasan teratur adalah pengawasan yang dilakukan sesuai program dan jadwal yang sudah disusun sebelumnya, diadakan secara periodik, secara berkala.
g.      Pengawasan terus menerus, yakni pengawasan yang dilakukan tanpa hentinya selama kegiatan berlangsung. Pengawasan jenis ini biasanya dilakukan terhadap kegiatan yang menggunakan tenaga kerja harian. Pengawasan ini dikatakan juga continue control. 


SUMBER :


0 komentar:

Posting Komentar

Jumat, 24 Januari 2014

TUGAS 3 ORGANISASI

Diposting oleh rizkaicha28 di 06.11
TEORI MOTIVASI MENURUT PARA AHLI

1.     Teori Motivasi Kebutuhan ( menurut Abraham Maslow)
Teori motivasi yang paling terkenal adalah hierarki teori kebutuhan milik Abraham Maslow.  Ia membuat hipotesis bahwa dalam setiap diri manusia terdapat hierarki dari lima kebutuhan, yaitu fisiologis (rasa lapar, haus, seksual, dan kebutuhan fisik lainnya), rasa aman (rasa ingin dilindungi dari bahaya fisik dan emosional), sosial (rasa kasih sayang, kepemilikan, penerimaan, dan persahabatan), penghargaan (faktor penghargaan internal dan eksternal), dan aktualisasi diri (pertumbuhan, pencapaian potensi seseorang, dan pemenuhan diri sendiri).
·         Kebutuhan fisiologis (rasa lapar, rasa haus, dan sebagainya)
·         Kebutuhan rasa aman (merasa aman dan terlindung, jauh dari bahaya)
·         Kebutuhan akan rasa cinta dan rasa memiliki (berafiliasi dengan orang lain, diterima, memiliki)
·         Kebutuhan akan penghargaan (berprestasi, berkompetensi, dan mendapatkan dukungan serta pengakuan)
·         Kebutuhan aktualisasi diri (kebutuhan kognitif: mengetahui, memahami, dan menjelajahi; kebutuhan estetik: keserasian, keteraturan, dan keindahan; kebutuhan aktualisasi diri: mendapatkan kepuasan diri dan menyadari potensinya).

2.      Teori Motivasi Herzberg
Menurut Herzberg (1966), ada dua jenis faktor yang mendorong seseorang untuk berusaha mencapai kepuasan dan menjauhkan diri dari ketidakpuasan. Dua faktor itu disebutnya faktorhigiene (faktor ekstrinsik) dan faktor motivator (faktor intrinsik). Faktor higiene memotivasi seseorang untuk keluar dari ketidakpuasan, termasuk didalamnya adalah hubungan antar manusia, imbalan, kondisi lingkungan, dan sebagainya (faktor ekstrinsik), sedangkan faktor motivator memotivasi seseorang untuk berusaha mencapai kepuasan, yang termasuk didalamnya adalah achievement, pengakuan, kemajuan tingkat kehidupan, dsb (faktor intrinsik).
3.      Teori achievement Mc Clelland
Menurut  Mc Clelland (1961), menyatakan bahwa ada tiga hal penting yang menjadi kebutuhan manusia, yaitu:

·         Need for achievement (kebutuhan akan prestasi dorongan untuk melebihi, mencapai standar-standar, berusaha keras untuk berhasil.)
·         Need for afiliation keinginan untuk menjalin suatu hubungan antarpersonal yang ramah dan akrab (kebutuhan akan hubungan sosial/hampir sama dengan soscialneed-nya Maslow)
·         Need for Power kebutuhan untuk membuat individu lain berperilaku sedemikian rupa sehingga mereka tidak akan berperilaku sebaliknya (dorongan untuk mengatur).

4.     Teori X dan Y Douglass Mc Gregor
Douglas McGregor menemukan teori X dan teori Y setelah mengkaji cara para manajer berhubungan dengan para karyawan.  Kesimpulan yang didapatkan adalah pandangan manajer mengenai sifat manusia didasarkan atas beberapa kelompok asumsi tertentu dan bahwa mereka cenderung membentuk perilaku mereka terhadap karyawan berdasarkan asumsi-asumsi tersebut.

Ada empat asumsi yang dimiliki manajer dalam teori X. :
-          Karyawan pada dasarnya tidak menyukai pekerjaan dan sebisa mungkin berusaha untuk menghindarinya.
-          Karena karyawan tidak menyukai pekerjaan, mereka harus dipakai, dikendalikan, atau diancam dengan hukuman untuk mencapai tujuan.
-          Karyawan akan mengindari tanggung jawab dan mencari perintah formal, di mana ini adalah asumsi ketiga.
-          Sebagian karyawan menempatkan keamanan di atas semua faktor lain terkait pekerjaan dan menunjukkan sedikit ambisi.
Bertentangan dengan pandangan-pandangan negatif mengenai sifat manusia dalam teori X, ada pula empat asumsi positif yang disebutkan dalam teori Y.
-          Karyawan menganggap kerja sebagai hal yang menyenangkan, seperti halnya istirahat atau bermain.
-          Karyawan akan berlatih mengendalikan diri dan emosi untuk mencapai berbagai tujuan.
-          Karyawan bersedia belajar untuk menerima, mencari, dan bertanggungjawab. 
-          Karyawan mampu membuat berbagai keputusan inovatif yang diedarkan ke seluruh populasi, dan bukan hanya bagi mereka yang menduduki posisi manajemen.

5.      Teori Motivasi Clayton Alderfer
Clayton Alderfer mengetengahkan teori motivasi ERG yang didasarkan pada kebutuhan manusia akan keberadaan (exsistence), hubungan (relatedness), dan pertumbuhan (growth). Teori ini sedikit berbeda dengan teori maslow. Disini Alfeder mengemukakan bahwa jika kebutuhan yang lebih tinggi tidak atau belum dapat dipenuhi maka manusia akan kembali pada gerak yang fleksibel dari pemenuhan kebutuhan dari waktu kewaktu dan dari situasi ke situasi. 
6.     Teori Motivasi Vroom
Teori dari Vroom (1964) tentang cognitive theory of motivation menjelaskan mengapa seseorang tidak akan melakukan sesuatu yang ia yakini ia tidak dapat melakukannya, sekalipun hasil dari pekerjaan itu sangat dapat ia inginkan. Menurut Vroom, tinggi rendahnya motivasi seseorang ditentukan oleh tiga komponen, yaitu:
-          Ekspektasi (harapan) keberhasilan pada suatu tugas
-          Instrumentalis, yaitu penilaian tentang apa yang akan terjadi jika berhasil dalam melakukan suatu tugas (keberhasilan tugas untuk mendapatkan outcome tertentu).
-          Valensi, yaitu respon terhadap outcome seperti perasaan posistif, netral, atau negatif.Motivasi tinggi jika usaha menghasilkan sesuatu yang melebihi harapanMotivasi rendah jika usahanya menghasilkan kurang dari yang diharapkan

PENGERTIAN KEPEMIMPINAN
Kepemimpinan adalah proses memengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin kepada pengikutnya dalam upaya mencapai tujuan organisasi. Cara alamiah mempelajari kepemimpinan adalah “melakukanya dalam kerja” dengan praktik seperti pemagangan pada seorang senima ahli, pengrajin, atau praktisi. Dalam hubungan ini sang ahli diharapkan sebagai bagian dari peranya memberikan pengajaran/instruksi.
·         Stogdill (1974) menyimpulkan bahwa banyak sekali definisi mengenai kepemimpinan, dan diantaranya memiliki beberapa unsur yang sama.
·         Menurut Sarros dan Butchatsky (1996), istilah ini dapat didefinisikan sebagai suatu perilaku dengan tujuan tertentu untuk mempengaruhi aktivitas para anggota kelompok untuk mencapai tujuan bersama yang dirancang untuk memberikan manfaat individu dan organisasi.
·         Sedangkan menurut Anderson (1988), “leadership means using power to influence the thoughts and actions of others in such a way that achieve high performance.
Berdasarkan definisi-definisi di atas, kepemimpinan memiliki beberapa implikasi, antara lain :
·         Kepemimpinan berarti melibatkan orang atau pihak lain, yaitu para karyawan atau bawahan (followers). Para karyawan atau bawahan harus memiliki kemauan untuk menerima arahan dari pemimpin. Walaupun demikian, tanpa adanya karyawan atau bawahan, tidak akan ada pimpinan.
·         Seorang pemimpin yang efektif adalah seseorang yang dengan kekuasaannya (his or herpower) mampu menggugah pengikutnya untuk mencapai kinerja yang memuaskan. Para pemimpin dapat menggunakan bentuk-bentuk kekuasaan atau kekuatan yang berbeda untuk mempengaruhi perilaku bawahan dalam berbagai situasi.
·         Kepemimpinan harus memiliki kejujuran terhadap diri sendiri (integrity), sikap bertanggungjawab yang tulus (compassion), pengetahuan (cognizance), keberanian bertindak sesuai dengan keyakinan (commitment), kepercayaan pada diri sendiri dan orang lain (confidence) dan kemampuan untuk meyakinkan orang lain (communication) dalam membangun organisasi.

Macam-macam tipe kepemimpinan
A.     Tipe Kepemimpinan Kharismatis
Tipe kepemimpinan karismatis memiliki kekuatan energi, daya tarik dan pembawaan yang luar biasa untuk mempengaruhi orang lain, sehingga ia mempunyai pengikut yang sangat besar jumlahnya dan pengawal-pengawal yang bisa dipercaya. Kepemimpinan kharismatik dianggap memiliki kekuatan ghaib (supernatural power) dan kemampuan-kemampuan yang superhuman, yang diperolehnya sebagai karunia Yang Maha Kuasa. Kepemimpinan yang kharismatik memiliki inspirasi, keberanian, dan berkeyakinan teguh pada pendirian sendiri. Totalitas kepemimpinan kharismatik memancarkan pengaruh dan daya tarik yang amat besar.
B.      Tipe Kepemimpinan Paternalistis/Maternalistik
Kepemimpinan paternalistik lebih diidentikkan dengan kepemimpinan yang kebapakan dengan sifat-sifat sebagai berikut:
·         mereka menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak/belum dewasa, atau anak sendiri yang perlu dikembangkan.
·         mereka bersikap terlalu melindungi.
·         mereka jarang memberikan kesempatan kepada bawahan untuk mengambil keputusan sendiri.
·         mereka hampir tidak pernah memberikan kesempatan kepada bawahan untuk berinisiatif.
·         mereka memberikan atau hampir tidak pernah memberikan kesempatan pada pengikut atau bawahan untuk mengembangkan imajinasi dan daya kreativitas mereka sendiri.
·         selalu bersikap maha tahu dan maha benar.
Sedangkan tipe kepemimpinan maternalistik tidak jauh beda dengan tipe kepemimpinan paternalistik, yang membedakan adalah dalam kepemimpinan maternalistik terdapat sikap over-protective atau terlalu melindungi yang sangat menonjol disertai kasih sayang yang berlebih lebihan.
C.      Tipe Kepemimpinan Militeristik
Tipe kepemimpinan militeristik ini sangat mirip dengan tipe kepemimpinan otoriter. Adapun sifat-sifat dari tipe kepemimpinan militeristik adalah:
·         lebih banyak menggunakan sistem perintah/komando, keras dan sangat otoriter, kaku dan seringkali kurang bijaksana.
·         menghendaki kepatuhan mutlak dari bawahan.
·         sangat menyenangi formalitas, upacara-upacara ritual dan tanda-tanda kebesaran yang berlebihan.
·         menuntut adanya disiplin yang keras dan kaku dari bawahannya.
·         tidak menghendaki saran, usul, sugesti, dan kritikan-kritikan dari bawahannya,.
·         komunikasi hanya berlangsung searah.

D.     Tipe Kepemimpinan Otokratis (Outhoritative, Dominator)
Kepemimpinan otokratis memiliki ciri-ciri antara lain:
·         mendasarkan diri pada kekuasaan dan paksaan mutlak yang harus dipatuhi.
·         pemimpinnya selalu berperan sebagai pemain tunggal.
·         berambisi untuk merajai situasi.
·         setiap perintah dan kebijakan selalu ditetapkan sendiri.
·         bawahan tidak pernah diberi informasi yang mendetail tentang rencana dan tindakan yang akan dilakukan.
·         semua pujian dan kritik terhadap segenap anak buah diberikan atas pertimbangan pribadi.
·         adanya sikap eksklusivisme.
·         selalu ingin berkuasa secara absolute.
·         sikap dan prinsipnya sangat konservatif, kuno, ketat dan kaku.
·         pemimpin ini akan bersikap baik pada bawahan apabila mereka patuh.

E.      Tipe Kepemimpinan Laissez Faire
Pada tipe kepemimpinan ini praktis pemimpin tidak memimpin, dia membiarkan kelompoknya dan setiap orang berbuat semaunya sendiri. Pemimpin tidak berpartisipasi sedikit pun dalam kegiatan kelompoknya. Semua pekerjaan dan tanggung jawab harus dilakukan oleh bawahannya sendiri. Pemimpin hanya berfungsi sebagai simbol, tidak memiliki keterampilan teknis, tidak mempunyai wibawa, tidak bisa mengontrol anak buah, tidak mampu melaksanakan koordinasi kerja, tidak mampu menciptakan suasana kerja yang kooperatif.
F.       Tipe Kepemimpinan Populistis
Kepemimpinan populis berpegang teguh pada nilai-nilai masyarakat yang tradisonal, tidak mempercayai dukungan kekuatan serta bantuan hutang luar negeri. Kepemimpinan jenis ini mengutamakan penghidupan kembali sikap nasionalisme.
G.     Tipe Kepemimpinan Administratif/Eksekutif
Kepemimpinan tipe administratif ialah kepemimpinan yang mampu menyelenggarakan tugas-tugas administrasi secara efektif. Pemimpinnya biasanya terdiri dari teknokrat-teknokrat dan administratur-administratur yang mampu menggerakkan dinamika modernisasi dan pembangunan. Oleh karena itu dapat tercipta sistem administrasi dan birokrasi yang efisien dalam pemerintahan.
H.     Tipe Kepemimpinan Demokratis
Kepemimpinan demokratis berorientasi pada manusia dan memberikan bimbingan yang efisien kepada para pengikutnya. Terdapat koordinasi pekerjaan pada semua bawahan, dengan penekanan pada rasa tanggung jawab internal (pada diri sendiri) dan kerjasama yang baik. kekuatan kepemimpinan demokratis tidak terletak pada pemimpinnya akan tetapi terletak pada partisipasi aktif dari setiap warga kelompok.

Pengertian Komunikasi
Kata atau istilah komunikasi (dari bahasa Inggris “communication”),secara etimologis atau menurut asal katanya adalah dari bahasa Latin communicatus, dan perkataan ini bersumber pada kata communis Dalam kata communis ini memiliki makna ‘berbagi’ atau ‘menjadi milik bersama’ yaitu suatu usaha yang memiliki tujuan untuk kebersamaan atau kesamaan makna.
Jadi, Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain. Pada umumnya, komunikasi dilakukan secara lisan atau verbal yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. Apabila tidak ada bahasa verbal yang dapat dimengerti oleh keduanya, komunikasi masih dapat dilakukan dengan menggunakan gerak-gerik badan, menunjukkan sikap tertentu, misalnya tersenyum, menggelengkan kepala, mengangkat bahu. Cara seperti ini disebut komunikasi nonverbal.

Pengertian Hambatan

1.      Hambatan internal, adalah hambatan yang berasal dari dalam diri individu yang terkait kondisi fisik dan psikologis. Contohnya, jika seorang mengalami gangguan pendengaran maka ia akan mengalami hambatan komunikasi. Demikuan pula seseorang yang sedang tertekan (depresi) tidak akan dapat melakukan komunikasi dengan baik.
2.      Hambatan eksternal, adalah hambatan yang berasal dari luar individu yang terkait dengan lingkungan social budaya. Contohnya perbedaan latar belakang social budaya dapat menyebabkan salah pengertian.

Klasifikasi Komunikasi dalam organisasi
Di bawah ini ada beberapa klasifikasi komunikasi dalam organisasi yang di tinjau dari beberapa segi :
A.     Dari segi sifatnya :
a.      Komunikasi Lisan
Komunikasi yang berlangsung lisan / berbicara. Contoh: presentasi.
b.      Komunukasi Tertulis
Komunikasi melalui tulisan. Contoh: email.
c.       Komunikasi Verbal
komunikasi yang dibicarakan/diungkapkan. Contoh: curhat.
d.      Komunikasi Non Verbal
Komunikasi yang tidak dibicarakan(tersirat). Contoh: seseorang yang nerves (gemetar).


B.      Dari segi arahnya :
a.      Komunikasi Ke atas
Komunikasi dari bawahan ke atasan.
b.      Komunikasi Ke bawah
Komunikasi dari atasan ke bawahan.
c.       Komunikasi Horizontal
Komunikasi ke sesama manusia / setingkat.
d.      Komunikasi Satu Arah
Pemberitahuan gempa melalui BMKG(tanpa ada timbal balik).
e.      Komunikasi Dua Arah
Berbicara dengan adanya timbal balik/ saling berkomunikasi.

C.      Menurut Lawannya :
a.      Komunikasi Satu Lawan Satu
Berbicara dengan lawan bicara yang sama banyaknya.  Contoh: berbicara melalui telepon.
b.      Komunikasi Satu Lawan Banyak (kelompok)
‏Berbicara antara satu orang dengan suatu kelompok. Contoh: kelompok satpam menginterogasi maling.
c.       Kelompok Lawan Kelompok
Berbicara antara suatu kelompok dengan kelompok lain. Contoh: debat partai politik.

D.     Menurut Keresmiannya :
a.      Komunikasi Formal
Komunikasi yang berlangsung resmi. Contoh: rapat pemegang saham.
b.      Komunikasi Informal
Komunikasi yang tidak resmi. Contoh: berbicara dengan teman.

Pengertian Pengawasan
Dalam kamus besar bahasa Indonesia pengawasan berasal dari kata “awas” yang artinya memperhatikan baik-baik, dalam arti melihat sesuatu dengan cermat dan seksama, tidak ada lagi kegiatan kecuali memberi laporan berdasarkan kenyataan yang sebenarnya dari apa yang di awas.
Pengawasan bisa didefinisikan sebagai suatu usaha sistematis oleh manajemen bisnis untuk membandingkan kinerja standar, rencana, atau tujuan yang telah ditentukan terlebih dahulu untuk menentukan apakah kinerja sejalan dengan standar tersebut dan untuk mengambil tindakan penyembuhan yang diperlukan untuk melihat bahwa sumber daya manusia digunakan dengan seefektif dan seefisien mungkin didalam mencapai tujuan.
Klasifikasi pengawasan
Ada beranekaragam atau bermacam-macam jenis daripada pengawasan. Di antara banyak jenis-jenis pengawasan itu adalah sebagai berikut :
1.      Dilihat dari bidang kerja atau objeknya pengawasan terdiri dari :
      a.    Pengawasan dibidang penjualan.
      b.   Pengawasan dibidang keuangan dan pembiayaan.
      c.     Pengawasan di bidang material dan perbekalan.
      d.    Pengawasan dibidang personalia.
      e.     Pengawasan dibidang kualitas atau mutu.
      f.     Pengawasan dibidang produksi.
      g.    Pengawasan dibidang anggaran.

2.      Dilihat dari segi subjek atau petugas control atau yang melakukan pengawasan, maka pengawasan dapat dibedakan atas :

a.      Pengawasan internal, yakni pengawasan yang dilakukan oleh petugas-petugas dari organisasi atau perusahaan atau jawatan yang sedang melaksanakan kegiatan.
b.      Pengawasan eksternal, adalah pengawasan yang dilancarkan oleh petugas-petugas dari luar organisasi ataupun perusahaan atau jawatan yang bersangkutan, baik merupakan pengawasan dari pihak pemerintah maupun dari masyarakat umum.
c.       Pengawasan formal, yakni pengawasan yang dilakukan oleh petugas-petugas resmi atau petugas-petugas yang sudah ditunjuk sebelumnya dan biasanya dilakukan sesuai dengan rencana, program maupun jadwal yang sudah ditetapkan semula.
d.      Pengawasan informal, yakni pengawasan yang dilakukan petugas-petugas yang ditunjuk sewaktu-waktu, dilakukan oleh petugas tidak resmi dan sering kali pengawasan jenis ini dilakukan seketika jika terjsdi hal-hal yang tidak dibenarkan menurut rencana serta sering dilakukan di luar program dan jadwal yang telah ditetapkan sebelumnya.
e.      Pengawasan manajerial adalah pengawasan yang dilakukan oleh manajer atau pemimpin, biasanya menyangkut segala sesuatu yang berkenaan dengan proses manajemen, yaitu perencanaan, pengorganisasian dan penggerakan orang-orang.
f.        Pengawasan staf, yakni pengawasan yang dilakukan oleh staf yang memang diberi tugas untuk melakukan pengawasan dalam bidang-bidang kegiatan tertentu.

3.      Ditinjau dari segi waktu, maka pengawasan dapat dikatagorikan :

a.      Pengawasan Preventif, yakni pengawasan yang bermaksud mencegah timbulnya kesalahan-kesalahan dan hal-hal yang tidak diinginkan. Pengawasan ini dinamai pengawasan pencegahan.
b.      Pengawasan Improses, adalah pengawasan yang dilakukan sedang terjadinya penyimpangan atau kekeliruan- kekeliruan dengan maksud agar pelaksanaannya sesuai dengan rencana.
c.       Pengawasan Represif, yaitu pengawasan yang dilakukan sesudah terjadinya penyimpangan atau kesalahan, dengan tujuan untuk memperbaiki dan agar kelak pelaksanaan selanjutnya tidak akan terjadi lagi kesalahan dan penyimpangan.

4.      Dilihat dari segi lainnya, maka pengawasan dapat digolongkan atas beberapa jenis, misalnya :

a.      Pengawasan umum, yakni pengawasan yang dilakukan secara keseluruhan daripada segenap kegiatan yang dilakukan.
b.      Pengawasan khusus adalah pengawasan yang dilakukan untuk bidang-bidang kegiatan tertentu saja, tidak menyeluruh, tetapi pengawasan terhadap bagian-bagian tertentu saja.
c.       Pengawasan langsung adalah pengawasan yang langsung dilakukan ke tempat dimana pekerjaan sedang berlangsung.
d.      Pengawasan tidak langsung adalah pengawasan yang dilakukan melalui control mekanis, misalnya dengan laporan lisan, laporan tertulis, melalui data statistic neraca dan sebagainya.
e.      Pengawasan mendadak, yaitu pengawasan yang dilakukan di luar program, pemgawasan dengan tiba-tiba tanpa terlebih dahulu member tahukan kepada pekerja atau petugas yang bertanggung jawab terhadap pekerjaan tersebut. pengawasan mendadak ini sering pula disebut “in cognito”.
f.        Pengawasan teratur adalah pengawasan yang dilakukan sesuai program dan jadwal yang sudah disusun sebelumnya, diadakan secara periodik, secara berkala.
g.      Pengawasan terus menerus, yakni pengawasan yang dilakukan tanpa hentinya selama kegiatan berlangsung. Pengawasan jenis ini biasanya dilakukan terhadap kegiatan yang menggunakan tenaga kerja harian. Pengawasan ini dikatakan juga continue control. 


SUMBER :


0 komentar on "TUGAS 3 ORGANISASI"

Posting Komentar

 

Rizka Setiowati Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos